Tampilkan postingan dengan label Artikel Tips Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Tips Sukses. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

Bagaimana Menimbang Risiko dalam Memulai Bisnis?_ Tung Desem Waringin

DetikFinance.Jakarta
Pengusaha kawakan Bob Sadino pernah memberikan kiat sederhana bagi seorang pemula yang ingin memulai bisnis. Ternyata kuncinya sangat simple, namun pelaksanaanya tak mudah.

Menurut Bob banyak orang akhirnya tak memulai-mulai usaha walaupun sudah memiliki modal uang. Menurutnya setidaknya ada tiga hal penghalang utama seseorang memulai usaha, yaitu terlalu banyak rencana, menunggu moment yang pas, dan takut menghadapi risiko bisnis.

Terkait dengan risiko, menurutnya bisnis hanya bisa dijalankan bila ada keberanian menerima risiko. Intinya yang paling penting, hilangkan rasa takut, jangan takut. Seseorang tidak mungkin memulai bisnis bila dia tidak memiliki kemauan yang kuat, tekad, berani mengambil peluang, tahan banting, dan tidak lupa untuk bersyukur dan ikhlas.

Terkait hal tadi, berikut ini ulasan singkat mengenai menakar risiko bagi pemula untuk memulai bisnis. Kali ini motivator marketing ternama Tung Desem Waringin mencoba memberikan poin-poin penting bagi anda yang ingin memulai bisnis.

Bagaimana menimbang risiko dalam memulai bisnis?

Dalam memulai suatu Bisnis, yang paling menghambat seseorang bukan modal ataupun ilmu tetapi adalah rasa takut menghadapi risiko. Apabila kita mau memulai bisnis harus belajar yang namanya menimbang risiko, dimana kita dapat tahu dan menilai berapa besar resiko yang akan kita hadapi ketika memulai bisnis tersebut.

Sering kali seseorang ingin memulai bisnis, yang menghambat mereka bukan karena kurang ilmunya, pengetahuan, atau bahkan kurang modal, melainkan rasa takut. Rasa takut yang menghambat mereka untuk memulai bisnis, kalau kita mau mulai belajar bisnis alangkah baiknya kita mengenal satu yang namanya 'risiko'.

Risiko dengan beresiko adalah berbeda, Perbedaan risiko dan berisiko adalah risiko ada 2 unsur, yaitu: pertama besar kecil kemungkinan terjadinya, yang kedua adalah besar kecil akibatnya, bisa itu positif atau negatif.

Sedangkan berisiko apabila kita sudah menimbang risikonya, yaitu besar kecil kemungkinan terjadinya besar kecil akibat negative dan positifnya. Ternyata risikonya tidak bisa kita terima, berarti bisnis tersebut beresiko.

Mari kita tes dengan angka, misalnya Anda mulai bisnis dengan kemungkinan berhasil 1:9. Maksudnya adalah Anda bisnis 10 kali berhasilnya cuma sekali, yang kesepuluh bangkrut. Kira-kira Anda mau atau tidak? Tentu saja Anda berbicara tidak mau, Kenapa tidak mau? Karena Anda merasa kemungkinan gagalnya jauh lebih besar dan Anda tidak mau terjadi hal seperti itu. Anda lupa menimbang apa yang perlu Anda timbang? Yaitu besar kecilnya akibatnya kalau terjadi.

Misalnya begini, kalau bisnis Anda gagal, Anda cuma bayar satu, tetapi kalau berhasil Anda dapat 50 kali. Mari sekarang kita hitung lagi, saya ulangi sekali lagi. Kalau Anda tidak berhasil efeknya paling buruk Anda bayarnya cuma satu.Tetapi sekali berhasil Anda dapat 50 risikonya, bisa Anda terima.

Mari kita hitung usaha Anda, 10 kali berhasilnya cuma 1. Berarti Anda gagalnya 9 kali dan Anda bayar satu, satu saja. Tetapi kalau Anda berhasil dapatnya 50 kira-kira mau tidak? Jawabannya sudah pasti Mau, berapa kali. Anda pasti mau sebanyak-banyaknya bisnis dengan kemungkinan berhasil 10 persen. Karena kalau sekali berhasil Anda dapat 50 kali lipat di banding kalau Anda gagal sekali. Sekarang ketika mulai bisnis kita akan selalu menimbang akan hal ini.

Kemungkinan berhasilnya berapa persen dan kemudian yang kedua adalah akibatnya apa? Kalau saya berhasil saya dapat apa? Tetapi kalau saya tidak berhasil saya bayar berapa. Berarti tergantung juga satu unsur lagi dari kondisi keuangan Anda.

Kalau kondisi keuangan Anda hari ini misalnya 20, Anda mainnya berapa? Misalnya Anda mainnya dua,dua,dua. Atau Anda mainnya satu,satu. Atau mainnya sepuluh, sepuluh dan Anda cuma main dua kali saja. Kalau kemungkinan berhasilnya 1:9 atau 10 persen, Anda cuma punya uang 20 Anda harus main dan mainnya satuan saja. Misalnya Rp 20.000.000 Anda mainnya Rp 1.000.000, Rp.1.000.000. Tetapi kalau Rp 100.000.000 Anda main Rp10.000.000 ,Rp10.000.000 .

Karena rasio keberhasilannya 1:9 main 10 kali 9 kali gagal dan 1 kali berhasil. Mungkin tidak ternyata luput Anda main Rp20.000.000 dan ikut Rp 1.000.000.Kalau sampai kalah 15 kali pun tidak masalah. Begitu ke 16 kali menang dan dapat Rp50.000.000 baru seru. Dengan demikian ketika memulai bisnis Anda mulai tanya, resikonya apa.

Resiko yang paling buruk, misalnya resiko paling buruk saya kehilangan sejumlah uang sekian. Saya sudah rela, kemudian kemungkinan berhasilnya 50:50. Dan kalau saya berhasil dapatnya 'Lima kali lipat'.Yang paling penting saya bisa main 3 kali sampai 4 kali. Sekali menang saya dapat 5 kali lipat.

Dengan memanage risiko seperti ini kita gali pertanyaan lagi. Misalnya, ketika mau mulai bisnis, akibatnya kalau saya bisnis ini saya kehilangan Rp100.000.000 , dan Rp100.000.000 masih bisa saya terima. Tetapi lebih baik Anda tanya lagi supaya kalau Rp 1.000.000 kemungkinan risikonya jauh lebih kecil. Ini bisa tidak pakai istilah bagi hasil. Tidak harus keluar modal terlebih dahulu, modalnya bisa dari orang lain terlebih dahulu atau dari supplier Anda.

Sehingga Anda tidak pakai modal dan kemungkinan Anda ruginya jauh lebih nol lagi karena sudah tanpa modal sama sekali. Kemudian Anda bisa 'Konsinyasi' terlebih dahulu, akibatnya kalau Anda tidak laku Anda bisa kembalikan saja.

Pertanyaan kedua supaya kemungkinan berhasilnya jauh lebih besar setelah Anda mulai menimbang risiko Anda jangan lupa tanya kedua hal ini. Karena supaya akibatnya jauh lebih kecil, bisa tidak konsinyasi dulu atau bisa tidak ada garansinya.Supaya kemungkinan untung jauh lebih besar, saya harus belajar dengan siapa. Ketika Anda menimbang seperti ini, hidup Anda akan jauh lebih berani dalam mengambil risiko. Karena resiko selalu ada dan bisa terjadi dimana-mana.

Misalnya, Bisa jadi rumah Anda di tabrak pesawat terbang dan Anda mati, mungkin tidak? Itu mungkin sekali dan pertanyaannya itu risiko dan ini kemungkinannya kecil.

Atau bisa juga saat ini jika Anda nonton ramai-ramai bersama saudara Anda mungkin tidak kemungkinannya dapat terjadi, atau risiko ini terjadi tetapi akibatnya kecil. Misalnya orang yang seruangan Anda kentut, pasti kan ada efeknya. Ya efeknya itu bau, kemungkinan terjadinya besar dan itu bisa kita abaikan. Sesuatu hal yang kita timbang ini kita tidak mampu menerimanya berarti resiko.

Anda mulai usaha dengan modal Rp 10 Miliar, duit Anda cuma Rp 2 Miliar. Yang Rp 8 Miliar Anda utang dengan cara Anda gadaikan rumah dan sebagainya, bahkan Anda hutang kepada mafia dan mafianya kejam sekali. “Awas ya saya tahu anak mu sekolah dimana kalau ada apa-apa nanti saya incar anakmu”. Kemudian Anda kerja sama dengan orang yang baru Anda kenal, dan orang tadi baru 2 bulan keluar dari penjara.

Bagi Anda bisnisnya berisiko tidak, tetapi dengan kondisi yang sama dan dengan kepemilikan hartanya lebih banyak. Misalnya Bill Gates modalnya Rp 10 Miliar kemungkinan berhasilnya hampir nol karena partnernya habis keluar dari penjara dan dia bergelut di dunia yang baru. Bagi Bill Gates itu berisiko atau tidak berisiko. Saya simpulkan kalau Anda mau bisnis atau investasi pertimbangkan risiko atau berisiko.

Kalau risikonya ada dan Anda terima kemungkinan berhasil dan bisa Anda terima. Kalau Anda kena resiko lebih kecil maka akibatnya kecil. Dan juga siapa yang bisa bantu saya saya harus joint sama siapa dan sudah Anda timbang semua ternyata masih bisa terima risiko dengan misi kekayaan Anda.

Apalagi kemungkinan kalau menang dapatnya banyak.'Why not'. Makanya saya Tung Desem Waringin saya sering buka dan tutup perusahaan karena sudah menimbang risiko, kalau tidak jadi tutup dan kalau jadi meledak lebih besar.

Semoga bermanfaat saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam Dahsyat.

Cara Menggaet Orang-orang Terbaik untuk Bekerjasama dengan Anda_ Tung Desem Waringin

DetikFinance.Jakarta
Ada yang bilang keberhasilan atau kegagalan seseorang tergantung apa yang menjadi keputusannya. Termasuk diantaranya saat memutuskan untuk bekerjama dengan orang-orang terbaik yang bisa mendongkrak keberhasilan bisnis anda.

Berikut ini ulasan dari pakar marketing bisnis Tung Desem Waringin, Jumat (1/6/2012), kali ini menyoal kerjasama dengan orang-orang tebaik dalam berbisnis.

Untuk menjadi yang terdahsyat, Anda harus bekerjasama dengan yang terbaik. Dalam artikel ini saya akan menceritakan bagaimana caranya supaya orang yang terbaik mau bekerjasama dengan Anda, Semoga bermanfaat.

Siapa yang ingin tahu caranya bagaimana orang-orang terbaik di dunia mau bekerja sama dengan kita. Siapa kamu, kita tidak tahu mendadak ada orang terbaik di dunia tiba-tiba mau bekerja sama dengan kita. Siapa yang ingin tahu caranya?

Seperti ini yang saya lakukan, saya banyak sekali bekerja sama dengan yang terbaik di dunia. Misalnya saya bekerja sama dengan Anthony Robbins. Dia adalah number one success good, jadi apa yang saya lakukan untuk bisa mengundang dia? Saya jadi makelar.

Saya jual Indonesia, ini adalah sebuah ilmu yang saya ajarkan kalau Anda ingin bekerja sama dengan orang terbaik. Kemungkinan berhasilnya jauh lebih tinggi, Anda bisa dipercaya dan sebagainya.

Tapi kuncinya adalah Anda jual Indonesia, pada waktu saya meminta Anthony Robbins untuk datang ke Indonesia, dan mau mengadakan seminar dengan saya. Sewaktu itu saya ikut seminar dia, dan saya harus membayar senilai US$ 13.500.

Dan akhirnya saya jual satu-satunya properti saya. Saya lakukan itu karena ilmunya sangat dahsyat sekali, tetapi saya ingin sekali bertemu dengan dia. Dan apa yang saya lakukan, sangat susah sekali untuk bertemu dengan Anthony Robbins.

Dia memiliki tinggi 2.10 meter, bodyguard-nya juga dua meteran, motor tidak bisa, mobil juga tidak bisa. Akhirnya saya titip kartu nama kepada bodyguard-nya. Pada waktu itu kartu nama saya masih polos, di belakangnya saya tuliskan “Hai, Anthony please come to Indonesia.”

Indonesia 220.000.000 jiwa, lima persennya adalah orang kaya, kalau lima persen saja orang kaya berarti 11 milion all rich people, not like Singapura. Karena di Singapura hanya 3,5 million all rich people and do you know, many rich people from Singapore come from Indonesia.

Ini adalah Indonesia, sewaktu saya mengikuti seminarnya di Singapura saya jalan-jalan berdua dengan teman saya, Dan ada satu orang berkata, ini adalah gedung milik saya. Saya menanggapi “Waw Andakah yang punya apartemen ini? Lalu dia berkata, tidak bangunan ini milik saya...” wow its amazing!

Dalam hal ini ketika saya berbicara tentang Indonesia saya tuliskan Bali. Indonesia sebelah mana. Banyak orang tidak tahu Indonesia, sebelah mana Indonesia kalau Bali mereka banyak tahu.

Saya kasih kartu namanya tadi ke bodyguard-nya Anthony Robins, please give to Anthony Robbins. Kenapa tidak ada respon, kemudian saya beri lagi kali ini saya kasih kepada kepala bodyguard-nya. Hasilnya sama tidak ada respon juga.

Saya datangi ke hotelnya dan saya tanya kamar Anthony Robbins sebelah mana dan kamar nomor berapa. Dan orang hotel berkata kepada saya... tidak boleh pak. Ya sudah kalau begitu saya titip kartu nama saya saja, dan saya bilang ini nasibnya dua ratus dua puluh juta orang tergantung kamu.

Kemudian saya bertemu dengan istrinya kembali lagi saya titip kan kartu nama saya, kemudian saya ketemu GM-nya saya titip juga, ketemu presiden directornya saya titip juga. Banyak sekali saya titip kartu nama, tetapi saya tidak pernah bertemu dengannya.

Di hari terakhir seminar setelah delapan setengah hari saya disana, di saat bubaran saya langsung pegang tangan dari Anthony Robbins, please give me 30 second. Body guardnya berkata go away, go away, Seorang Anthony Robbins sangat ramah dan dia berkata “whats up”.

Kemudian saya bilang give me 30 second , kemudian saya bilang saya “Tung Desem Waringin and I come from Indonesia.” Dia pun menjawab “ohh, I know you the one has give so many card is here.”

Kemudian saya berkata: “do you want some more?” Berarti kartu nama saya sampai dan berhasil memancing perhatian dia. Saya langsung ngomong “please come to Indonesia, they have 220 millio npeople," beruntung saya tidak ditanya apa hubungannya kamu dengan Indonesia yang 220 juta.

Kalau dia tanya seperti itu saya jawab “hubungannya baik-baik saja”. Dia tidak bertanya apa - apa dan langsung berkata “April goes to Bali. Yes I will did.” Dia mau ke Bali pada bulan April.

Kemudian mendadak di bulan Agustus dan dia mau mengadakan seminar di sini. Pada bulan Desember teman saya di Universitas 11 Maret melakukan razia orang Amerika, mereka membakar bendera Amerika, di kedutaan banyak orang melakukan aksi, tiba - tiba mendadak langsung batal dan di cancel.

Akan tetapi lumayan dia sudah mengenal saya pada akhirnya saya jadi exclusive, konsultannya bisa memasarkan dia disini, ketika tahun ini saya berhenti, dan mau berhenti pun dia kirim dari Asia Pasifik dan dari Australia datang ke saya, dan dia bilang “would you do it again”, mau tidak mau saya melakukan lagi, kenapa kok saya yang di perlakukan seperti itu? Karena saya punya satu yang namanya membuat nilai tambah, ketika bapak ibu bekerja dan tidak mempunyai nilai tambah, itu sangat susah sekali.