Tampilkan postingan dengan label Inspiring Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiring Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2013

ISTANA PASIR - Kisah Inspiratif


Pagi mulai beranjak siang saat Pak Tua kedatangan anaknya dari kota. Di tangan kirinya masih tersampir jala yang sedang diperbaiki. Tangan kanannya masih sibuk menelisik jelujur benang nylon, menyusuri sisi-sisi yang koyak dari jala miliknya. Sinar matahari pantai yang datang sedikit terhalang lelaki yang tegak berdiri. Wajah Pak Tua itu menengadah, memandang sorot lelah dari kedua mata anaknya. "Ada apa?" tanyanya pelan.
 "Hidupku suram, Ayah," Mata si anak nanar. "Usahaku baru saja gagal, dan keluargaku tak lagi membuatku bahagia." Sang Ayah mengerti situasi semacam ini. Segera diletakkannya jala dan kelosan benang. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di pantai?" Sang Ayah berusaha tersenyum, "Sudahlah, matahari pantai pasti membuatmu cerah." Lelaku itu menurut. Wajahnya menoleh ke samping saat sang Ayah menepuk-nepuk punggung. Ia juga berusaha tersenyum.
 Pantai mulai ramai saat mereka mulai berjalan. Anak-anak bermain dengan sekop dan ember, membentuk istana-istana pasir dengan tangan mereka. Wajah-wajah yang ceria, membuat mereka tampak lebih lucu. Di sebelah kanan, ada pekik gembira dari anak lainnya yang berkeliaran menantang ombak. Mereka meloncat-loncat berusaha menghindari buih yang datang dengan tiba-tiba. Kaki-kaki kecil itu membentuk tapak-tapak yang berbaris di atas pasir pantai. Matahari yang mulai terik tak lagi dihiraukan. Anak-anak itu tetap larut dengan kebahagiaan masa kecil yang hadir seakan tak akan berakhir.
 Pasangan ayah dan anak itu pun memperhatikan semuanya. Mata mereka tak lepas dari pemandangan yang ada di sana. Namun, sang anak tetap hadir dengan tatapan yang kosong. Sang Ayah paham, ia lalu membuka suara "Ingatkah kamu saat masih kecil dulu? Pertanyaan itu dijawab pelan, "Ya, Ayah. Kenapa?" Tangan Ayah mengajak mereka menuju sebuah pohon nyiur. Kemudian, duduklah mereka di atas sebuah pelepah kering yang ada di sana. "Ya, tentu kamu masih ingat. Seperti anak-anak itulah kamu saat itu. Riang, gembira, dan bahagia. Tak peduli kulitmu menghitam, dan badanmu menggigil kedinginan. Kamu tetap berlari bersama ombak dan membuat istana pasir."
 "Cobalah, simak mereka lebih dekat. Lihat sekeliling kita." Keduanya menerawang. "Apakah udara yang kita hirup ini berbeda dengan yang dihirup anak-anak itu? Apakah sinar matahari yang terkena di kulit kita ini tak sama dengan yang menimpa tubuh mereka? Tapi mengapa engkau begitu murung, sedangkan mereka tidak? Mengapa mereka bisa berwajah cerah sedangkan kamu tidak? Ya. Kita hidup pada matahari yang sama, udara yang sama, dan pasir yang sama, tapi mengapa ada yang bias memandangnya dalam situasi yang berbeda?"
 "Lihatlah mereka. Lihatlah istana-istana pasir yang mereka buat. Bukankah buih-buih itu selalu melenyapkan istana-istana itu? Bukankah menara-menara pasir itu selalu tumbang dihantam ombak? Bukankah air laut selalu datang merusakkan segalanya? Tapi, apakah mereka berhenti mengayuhkan tangan untuk membangunnya kembali? Tidak. Apakah mereka menyerah untuk menyusunnya kembali? Tidak. Anak-anak itu pasti akan kembali mengumpulkan pasir dan membentuknya menjadi bangunan baru. Mereka akan terus menata, menyusun, dan mendirikan istana-istana yang baru, menara-menara yang baru, dan bangunan-bangunan yang baru." Air muka sang anak mulai cerah. Ayah melanjutkan, "Ayo, kembalikan ingatan masa kecilmu. Buat kembali istana-istana dan menara-menaramu.."
 Mereka tersenyum. Mereka mulai menyusuri pantai kembali. Mereka mungkin tak lagi muda, tapi lihatlah, keduanya kini berkejaran bersanding dengan ombak. Langkah kaki keduanya beriringan cepat, saling ingin mengalahkan. Ah, tubuh tua itu kalah sigap. Tubuhnya kini bergerak ke atas, dan digendong anak lelakinya dari belakang. Keduanya tertawa lepas, dan terjatuh bersama. Tubuh mereka basah dengan air laut, wajah dan kaki mereka penuh dengan pasir. Buih-buih terlihat seperti perak yang terhampar. Keduanya tampak seperti anak-anak kecil yang ada di sana. Mereka tampak bahagia.
                                                                        ***
 Teman, bukankah kita punya banyak persamaan? Ya, kita menjejak pada bumi yang satu, bernaung pada langit yang sama, menghirup udara yang sama, dan mereguk air yang sama. Tapi, mengapa ada orang yang melihatnya dalam situasi yang berlainan. Mengapa ada orang-orang yang bahagia, bersandingan dengan orang yang muram, mengapa ada orang yang gembira,beriringan dengan orang yang sedih hatinya?
 Kita tidak sedang membuat suatu generalisasi pada semua hal. Namun, tidakkah kita bisa mengambil sesuatu dari sana? Ada kenyataan bahwa terkadang suatu hal dipandang baik atau buruk, bukan karena penampakannya. Tapi, kita menciptakan sesuatu itu baik atau buruk, bahagia atau tidak bahagia dari pikiran kita sendiri. Pikiran kita sendirilah yang kadang mencuri bahagia yang Allah berikan. Benak kita sendirilah yang kerap menyorongkan kesedihan yang berlarut.
 Kita sering merasa iri kepada anak-anak yang menyusun istana pasir di pinggir pantai. Mereka tak pernah lelah. Mereka tak pernah berhenti mencipta. Tawa mereka selalu merekah, binar mata mereka tak pernah hilang dari wajah. Buih, terik matahari, ombak dan air laut tak pernah dihiraukan. Semua itu tak akan membuat mereka jera untuk membuat istana pasir. Mereka baru berhenti saat senja menjelang, atau saat orang tua mereka memanggil. Tidakkah kita bisa mengambil sesuatu dari sana?
 Teman, bangkitkanlah ingatan masa kecil, saat kita merasa sedih. Jadilah mereka yang selalu optimis memandang hidup, yang selalu memenuhi hari-hari dengan rasa bahagia. Jadilah mereka yang tak pernah lelah menyusun dan mencipta istana-istana pasir di pinggir pantai. Jadilah mereka yang bisa tersenyum gembira, bermain bersama buih, berkejaran bersama ombak, bercengkerama bersama hewan-hewan kecil dan daun-daun. Tidakkah kita bisa mengambil sesuatu dari sana?

Senin, 05 November 2012

PENGEMIS vs MANAJER

Manager : Pak, cape ya abis ngemis? Laper ya pak..?

Pengemis : Biasa aja tuh, hari ini saya udh makan 3x koq. :)

Manager : Loh..? uangnya cuman buat makan bapak doank? Anak dan istri di rumah makan apa? 8-|

Pengemis : Kayak org susah aja..! Td pagi saya sekeluarga abis ngerayain ultah anak saya yg kelima di Mc. Donald bareng guru2 & tmn2 sekolahnya. Siang ini istri dan anak saya barusan bbm saya, mrk lg makan di Pizza HUT tau! /:)

Manager sampai kebingungan dan berkata : Emank bapak ngemis 1 hari dapet brp..? :/

Pengemis : Nih ya.. Saya kasi tau..ya...!!

Saya ngemis dari jam 07.00-17.00.

Lampu merah atau hijau waktunya 60 detik. Setiap 60 detik paling nggak saya bisa dapet 2.000./:)

1 jam = 60 kali lampu merah/
Hijau

60 x 2.000 = 120.000 /jam

1 hari saya kerja 10 jam, 1 jam buat istirahat jadi 9 jam.

9 jam x 120.000 = 1.080.000/hari.

1 bulan saya kerja 26 hari.

26 hari x 1.080.000 = 28.080.000/bulan. :D

Manager sampai kaget dan bengong mendengar cerita pengemis itu..:O

Pengemis berkata : Emang mas jadi manager, gaji per bulannya brp..? 3-|

Manager : 6.000.000 :(

Pengemis : Ijasahnya lulusan apa...?

Manager : S-2:'(

Pengemis : Saya jd prihatin dech lihat penderitaan mas!!! Pasti duit nya banyak keluar buat kuliah ya??? blom lg jd pekerja kena marah ama boss. Kepala mas isinya pasti penuh soal kerjaan mulu. Mending mas ngemis aja. Biar KAYA sperti saya. Saya ngemis udh 20 tahun..., udah punya 2 mobil BMW buat saya & istri saya + kartu kredit platinum + dgn Apartemen sederhana di Kemang, rmh gubuk di Kota Wisata, anak saya belajar di international school dan anak perempuan saya yg paling tua sekarang lagi liburan bareng temen2nya yg sipit2 ke singapur,, minimal setahun 1X kami keliling dunia ..:x :D

Manager:
ƪ(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ ☀ ※huaa..♡̷̬̩̃̊huuaaa.... (╥﹏╥)........

Lebih Baik Mana ; Jadi Pengemis atau Manajer ?

Senin, 04 Juni 2012

Kisah Ayah, Anak & Keledai

Ada sepasang ayah dan anak yang sedang berjalan menarik keledai milik mereka. Mereka berniat untuk menjual keledai ini di kota. Saat awal perjalanan dari rumah menuju kota, sang ayah dan anak berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Sampai tak berapa lama, ada orang yang berkata kepada ayah dan anak ini, “Kalian bodoh sekali, kalian berdua menuntun keledai yang seharusnya bisa mengangkut salah satu dari kalian!”
Mendengar orang berkata seperti itu, sang ayah menyuruh sang anak duduk di atas keledai tersebut. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama mereka berjalan, mereka berjalan berpapasan dengan satu orang kembali. Orang tersebut tiba-tiba berkata, “Dasar anak tidak berbakti! Orangtua yang sudah tua disuruh berjalan kaki, tetapi sendirinya malah enak-enakan duduk santai di atas keledai!”
Mendengar komentar seperti itu, sang ayah dan anak pun segera berganti posisi. Sekarang sang ayah yang duduk di atas keledai dan sang anak yang berjalan kaki menuntun keledai. Tak berapa lama kemudian, kembali mereka berpapasan dengan orang lain di jalan. Orang tersebut berkomentar, “Dasar orangtua tidak sayang anak! Anak sudah terlihat kelelahan berjalan, bukannya disuruh duduk di atas keledai malah dirinya sendiri yang enak-enakan duduk di atas keledai!”
Segera setelah mendengar komentar tersebut, sang ayah menyuruh anaknya ikut naik menunggang keledai. Sehingga sekarang kedua sang ayah dan anak tersebut sama-sama duduk menunggangi keledai. Kembali setelah tak lama berjalan, terdengar komentar dari orang lain, “Kalian lihat keledai yang malang tersebut. Bagaimana kalian bisa membiarkan keledai tersebut mengangkut kalian berdua. Kalian berdua mungkin lebih mudah mengangkat keledai ini daripada keledai ini mengangkut kalian berdua!”
Akhirnya sang ayah memutuskan untuk mengikat kaki keledai mereka di sebuah tongkat panjang, kemudian sang ayah dan anak memanggul keledai tersebut di pundak mereka. Semakin dekat mereka berjalan menuju kota, semakin banyak orang yang merasa aneh melihat pemandangan seekor keledai dipanggul oleh ayah dan anak ini. Banyak orang mulai penasaran dan mulai berbondong-bondong datang berdiri melihat dari dekat ayah dan anak ini. Karena banyak orang di sekeliling, keledai menjadi takut dan mulai meronta-ronta. Saat mereka melewati jembatan, keledai ini meronta dengan sangat hebat dan akhirnya terlepas dari ikatannya, lalu terjatuh ke sungai dan mati tenggelam.
Teman-teman, hari ini saat saya membuka FB saya. Saya membaca dua hal. Pertama adalah teman saya menulis di status FB saya dengan isi kurang lebih seperti ini : “Boleh ga kita drop karena gosip?”. Kedua saya membaca status teman saya yang sepertinya merasa kecewa karena dirinya mendapat kritik dan komentar negatif terhadap dirinya.
Gosip, kritik, cercaan adalah suatu hal yang selalu ingin dihindari oleh semua orang. Karena biasanya gosip akan membuat diri kita merasa tidak nyaman, merasa sedih dan drop. Kadang-kadang gosip itu bisa datang karena memang kita ada berbuat salah, lalu ada juga yang datang entah darimana. Bagaimanapun asal dari gosip dan kritikan tersebut, saya di sini ingin mengingatkan kepada teman-teman bahwa gosip adalah suatu hal yang saat pasti akan menimpa diri kita. Ini adalah hal yang tidak dapat kita dihindari, hanya masalah cepat atau lambat. Oleh karena fakta tersebut, teman-teman tidak perlu menjadi terlalu takut dan menjadi sangat drop ketika mendapati bahwa diri kita sedang dibicarakan atau digosipi oleh orang lain.
Apabila teman-teman saat ini sedang mengalami hal seperti tersebut ada beberapa hal yang perlu kita ingat saat ini berhubungan tentang gosip atau kritik.
Pertama : Kita tidak dapat mengatur dan mengontrol apa yang dirasakan, dipikirkan dan dikatakan oleh orang lain. Terkadang karena kita terlalu terfokus untuk berusaha membuat orang lain berpikir sesuai dengan keinginan kita, maka kita seringkali akan merasa frustasi sendiri. Hal yang terpenting adalah kita sudah menjalankan apa yang seharusnya kita jalankan. Kita sudah melakukan sesuatu sesuai dengan hati kita, maka itu sudah cukup. Jika memang kita yang salah, selama kita sudah melakukan hal yang tepat untuk menebus kesalahan kita, itu sudah cukup.
Kedua : Kita tidak pernah dapat menyenangkan hati semua orang. Entah bagaimanapun kita berusaha berbuat baik kepada semua orang, pasti akan tetap ada orang yang tidak senang dengan kita. Orang yang berbicara jelek tentang kita. Terkadang beberapa dari kita seakan-akan berusaha menyenangkan semua orang. Berbuat baik kepada semua orang. Keadaan ini akan sangat mustahil, karena dalam hidup terkadang ada beberapa kondisi yang mengharuskan kita melakukan sesuatu hal yang mungkin di luar harapan orang lain. Jika teman-teman HRD pasti mengerti maksud saya ini. Ketika kita terlalu memaksakan menyenangkan semua orang dengan seluruh tenaga dan pikiran kita, yang terjadi adalah kita seringkali kecewa karena kita sepeti melakukan hal yang sia-sia. Seperti kisah ayah, anak & keledai di atas. Setiap orang memiliki pemikiran dan keinginan hati yang berbeda-beda, ketika kita berusaha menyenangkan keinginan dan pandangan setiap orang, maka yang terjadi seringkali berdampak buruk buat kita.
Ketiga : Mendengarkan orang lain memang penting, tapi jauh lebih penting mendengarkan hati kita sendiri. Ketika kita mendengarkan ada orang lain yang berbicara jelek tentang kita, ingat satu hal : diri kita jauh lebih mengetahui apa yang kita lakukan benar atau salah dibanding orang lain. Ketika kita mengintrospeksi diri dan menemukan bahwa kita tidak melakukan hal yang salah, cukup dengarkan hati kita.
Teman-teman, bagaimana caranya kita mengubah sebuah air tinta hitam dalam sebuah gelas menjadi air yang jernih?
Satu hal yang dapat kita lakukan adalah : terus tuangkan air putih jernih ke dalam gelas tersebut. Maka lambat laun air tinta hitam dalam gelas tersebut akan tergantikan dengan air putih yang jernih.
Jangan pernah berharap gosip akan hilang dalam sekejab. Tapi perlahan-lahan lakukan suatu hal positif (air putih) yang berlawanan dengan gosip (air tinta) tersebut. Lakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa gosip itu salah secara konsisten. Jika anda berbuat salah, maka belajar dari kesalahan (air tinta) tersebut dan lakukan hal yang benar (air putih) secara konsisten terus menerus. Dan selama proses tersebut, cukup dengarkan hati teman-teman.
Mendapat kritikan atau gosip bukan sesuatu yang bukan seharusnya. Yang bukan seharusnya adalah kita down saat mendapat kritikan tersebut dan berusaha bangkit dan membuktikan bahwa mereka semua salah.
Semoga teman-teman menjadi orang-orang yang tidak bebas dari gosip dan kritikan, namun selalu menang dari “mereka”.

taken from Monsieur SB's Stories

Kisah YAHYA SYUVSKUH Menolong Orang Lain

Kisah ini dialami oleh seorang muslim warga negara Jerman yang bernama Yahya Syuvskuh. 

Kisah ini bermula tatkala ia dan isterinya menumpang kendaraan umum. Waktu itu mereka berdua duduk di kursi. Tidak lama kemudian seorang laki-laki tua berkebangsaan Afrika naik dan ternyata kursi-kursi sudah penuh dengan penumpang, sehingga bapak tua itu pun berdiri. Dengan cepat Yahya bangkit dan mempersilakan bapak tua itu untuk duduk. Bapak tua ltu pun berterima kasih lalu duduk, namun tiba-tiba la menangis. 

Yahya terkejut dan bertanya tentang sebabnya, tetapi tak menemukan hasil, karena bapak tua itu berbicara dengan bahasa Inggris, sedangkan Yahya tidak dapat berbahasa Inggris. Lalu ia mencari tahu dan para penumpang yang lain, dan dari merekalah ia mengetahui bahwa bapak tua itu datang dari Afrika Selatan dan baru pertama kali ini bapak tua itu melihat ada orang kulit putih yang mahu memberikan tempat duduknya. 

Yahya menceritakan kisah ini seraya berkata, "Inilah Islam."

Masih dalam kisah Yahya. Kisahnya kali ini terjadi tatkala ia berada di kota Makkah. Ketika tiba waktu shalat, ia pergi ke Masjid Al-Haram. Ia lupa tidak membawa sajadah. Tatkala berdiri untuk melakukan shalat ia melihat di tempat sujudnya terdapat batu-batu kerikil, ia berkata dalam hati, "Ini adalah bagianku."

Akan tetapi, tiba-tiba orang berkebangsaan India yang berada di sebelahnya melepaskan jaketnya dan menghampar-kannya di tempat sujud Yahya. Yahya menutup kisahnya dengan ucapan, "Inilah Islam."

Kisah Keluarga dengan Karpet yang Kotor

Sendiri itu sunyi, sepi... bahagia itu ada ketika bersama keluarga..

No matter what they do...

Suatu cerita yang menggelitik dan jadi bahan renungan adalah sewaktu
saya mendengar Radio Classy dengan judul Karpet Kotor

Cerita ini diolah oleh Yanti, dia rajin, sebulan yang lalu kebetulan
melahirkan di RS Bunda. Dan saya minta izin untuk ini disampaikan pada
pembaca saya, semoga ada hikmah dan manfaatnya, selamat menikmati.

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki,, Urusan
belanja , cucian , makan , kebersihan & kerapihan rumah dapat
ditanganinya dengan baik,,

Rumah tampak selalu rapih , bersih & teratur dan suami serta
anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu,, Cuma ada satu
masalah, wanita yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di
rumahnya kotor,, Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya
gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet , dan suasana tidak enak
akan berlangsung seharian,, Padahal , dengan 4 anak laki-laki di rumah ,
hal ini mudah sekali terjadi... terjadi lagi dan terus menyiksanya.,,

Atas saran keluarganya , ia pergi menemui seorang psikolog ternama , dan
menceritakan masalahnya,, Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan
penuh perhatian , sang psikolog tersenyum & berkata kepada si wanita
itu,

"coba sekarang tutup mata anda , dan bayangkan apa yang akan saya
katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya,,

"Bayangkan rumah anda yang rapih dan karpet yang bersih mengembang , tak
ternoda , tanpa kotoran , tanpa jejak sepatu,, bagaimana perasaan anda?"

Sambil tetap menutup mata, senyum wanita itu merekah , mukanya yang
murung berubah cerah,, Ia tampak senang dengan bayangan yang
dilihatnya,,

Sang psikolog melanjutkan, "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah
anda , Tak ada suami , tak ada anak-anak , tak terdengar gurau canda dan
tawa ceria mereka,, Rumah anda sepi dan kosong tanpa orang-orang yang
anda kasihi",,

Seketika muka wanita itu berubah keruh , senyumnya langsung menghilang
napasnya mengandung isak,, Perasaannya terguncang , pikirannya langsung
cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya,,

"Sekarang lihat kembali karpet itu , anda melihat jejak sepatu & kotoran
di sana , artinya suami dan anak-anak anda ada di rumah , orang-orang
yang anda cintai ada bersama anda dan kehadiran mereka menghangatkan
hati anda",,

Ibu itu mulai tersenyum kembali ia merasa nyaman dengan visualisasi
tsb,,

"Sekarang buka matanya , bagaimana , apakah karpet kotor masih menjadi
masalah buat anda?"

Ibu muda itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya,,

Classy people , Jika kita melihat dengan sudut yang tepat , maka hal
yang tampak negatif dapat dilihat secara positif",, Bagaimana mengubah
sudut pandang? , salah satunya adalah dengan bersyukur ,, Bersyukur
untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,
karena itu artinya ia bersama anda bukan dengan orang lain ,, Untuk
suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV , karena itu artinya ia
berada di rumah dan bukan di bar , kafe , atau di tempat mesum..,, Bersyukur bagi anda yang masih mendengar suara 'mengorok' dengkuran pasangan Anda.. karena itu tandanya ia masih ada di samping Anda..

Bersyukur untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal ,
karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan ,, Dan
lain sebagainyaaa....,,,

Untuk itu ingin saya petikkan sebuah firman suci Nya dalam Al Qur"an

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman,
yaitu:"Bersyukurlah kepada Allah.Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. 31:12)

Dr. K Suheimi